!

January 29th, 2012 § Leave a Comment

carilah yang tak serupa, tapi sanggup membuatmu ingin menyerupakan kebaikannya. perlihatkan tak hanya baikmu, tapi juga burukmu, karena nyatanya, tak ada manusia yang tanpa keburukan.
jika bertemu, ikhlaskan, karena belum tentu apa yang kau pikir baik untukmu, diperbolehkan untukmu.

bebas

January 22nd, 2012 § Leave a Comment


Terbanglah, kau yang bersudut sama dengan kupu-kupu. Terbang dan bebaslah kau hinggap, jangan lagi terkurung jeruji harapan. Hilangkan keinginan dan udara akan memelukmu.

Maka cahaya akan menuntunmu, melewati kelopak, jika waktu sedang berbaik hati, ia akan membantumu melewati malam yang tak pernah ramah menyambutmu, menuju entah apa yang akan memberikanmu senyum.

Terbanglah, kau yang membentuk sayap. Terbang dan bebaslah kau menangkap bulir udara, jangan lagi terkurung helaan nafas berat terseret benda yang tak lagi ingin direkat, jika waktu sedang berbaik hati, ia akan membantu meluruhkan temali yang mengikatmu pada padat asap di malam hari, menuju udara yang membebaskan relungmu.

terbang, terbanglah hatiku. menuju pemilikmu, pemilik abadimu.

wishes

January 13th, 2012 § Leave a Comment

DNX SHQHQ QLNDK VDPD, My [k]night in shining armor, ZDKDE DGDP DOKDPLGV. AAMIIN.

peter pan syndrome

January 11th, 2012 § Leave a Comment

tau kan cerita peter pan : A mischievous boy who can fly and who never ages.
YES! he never ages.
Peter Pan, spends his never-ending childhood adventuring on the small island of Neverland as the leader of his gang the Lost Boys, interacting with mermaids, Native Americans, fairies, pirates, and occasionally ordinary children from the world outside of Neverland. In addition to two distinct works by Barrie, the character has been featured in a variety of media and merchandise, both adapting and expanding on Barrie’s works.
YES! his childhood adventure is never end!
(btw, mengenai peter pan diatas dapet dari wikipedia)

he never ages, he wouldn’t grow up and his adventure is never end. he’s always a boy.
and that is, dear me, just a tale.

genap lima jari

January 9th, 2012 § Leave a Comment

malamku, betapa panjang perjalanan ini.
betapa, tak mudah ku terka akhir cerita ini.
malamku, betapa telah lama tak pernah lagi kita tertawa, menikmati kekonyolan yang dicampuri gerak tarung amigdala.
tapi apa gunaku meminta.
apa gunaku memohon.
kita hanyalah dua pion yang digerakkan kesana kemari,
tak ada kaki untuk melangkah
kau dan aku, hanyalah manusia yang berbeda harap
kau dengan harapmu
aku dengan yakinku.

hari ini lima tahun lalu, sederhana,
secarik doa keselamatan
yang tanpa maksud apapun
kau tulis dalam kotak itu
yang juga kau tujukkan tak hanya untukku,
masih aku ingat hingga kini
tak mungkin kau duga
membawaku dalam perjalanan
pembuktian keyakinan tak berujung.

Assalamua’alaikum wr. wb.

tak ada catatan, hanya ingatan, di kepala manusia yang terhalang ruang geraknya, selamat datang di tahun ke lima, sayang.
yakinku tentangmu, masih berjaya, meski kini tak berdaya

ayah mereka

January 8th, 2012 § Leave a Comment

saya tidak punya fotonya, tidak juga punya ingatan yang banyak mengenai sosoknya, jika saya ditanya apa yang paling saya ingat mengenai sosoknya? jawaban saya pasti standart, sama dengan kebanyakan orang yang tidak begitu lama melibatkan diri dalam kehidupannya. kebanyakan cerita tentangnya saya dengar dari sosok istri tercintanya, dan sedikit tambahan dalam ingatan saya mengenai sosoknya dari sedikit waktu yang saya habiskan berada disekitarnya
pada akhir-akhir kehidupanya.
tidak ada kewajaran sama sekali atas kesedihan dan kehilangan yang saya rasakan agak berlebihan ini, siang tadi dalam sujud, tetiba tersadar betapa saya menginginkan menjadi anaknya jauh lebih besar dari pada saya menginginkan jadi pendamping anaknya, sesaat setelah terjadi kelebatan ingatan mengenai beliau semenjak pertama saya mengenal sosoknya, di tahun 2010 lalu.
tidak lama, sama sekali tidak lama, hanya sekitar 1 tahun setengah saya mengenal beliau, dan sekira 1 tahun saja saya lebih sering berada di sekitar beliau.

beliau bukan saja sosok yang cakap dalam urusan keagamaan, tetapi cakap dalam menyampaikan, suaranya tegas bertempo sedang, sesosok pendidik penuh kesabaran, yang paham betul bahwa pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu tetapi menularkan kebiasaan.
Lelaki sederhana, memiliki ilmu tak sederhana, dengan lihai menyampaikannya dengan sederhana, sehingga dimengerti oleh orang-orang dengan benak sederhana.
saya ingat, banyak hal-hal sederhana yang beliau sampaikan yang lambat laun dijadikannya sebagai kebiasaan, hingga kini masih diterapkan. banyak hal-hal sederhana, yang beliau sampaikan, oleh kebanyakan orang luput disampaikan padalah merupakan hal penting yang harus dibiasakan.
saya ingat, tak ada hal sederhana untuknya jika mengenai melayani tamu. tak pernah pula ia meremehkan sesuatu, bahkan yang kadang dilakukan dengan tanpa sadar oleh orang lain, melalui mimik muka,gerak tubuh ataupun tanggapan untuk orang lain.
tak ada untuknya, pertanyaan yang sepele, ia akan menjawab, bertanya ulang meyakinkan apakah si penanya sudah mengerti apa yang dimaksud, sekali lagi, tanpa gerak tubuh dan mimik muka yang menyepelekan. ketulusannya terpancarkan begitu saja.
lebih dari sekali beliau berada dalam mobil yang saya setir, beliau sendiri saya yakin bukan seorang yang amatir dalam menyetir, tetapi tak pernah sekali pun beliau terlihat khawatir atau ragu atas kemampuan menyetir saya, padahal tidak sekali saya terlihat lalai di jalan raya.

saya ingat kopi luwak dan karedok, sendal dan kopiah,
iklan teh ulat dan pucuk daun.

tidak wajar memang, tetapi nyatanya siang tadi kesedihan dan kerinduan itu menyeruak begitu saja, mengingat begitu sedikit waktu saya rasakan keberadaanya, dan saya pun iri,
iri kepada anak-anaknya yang kesedihan dan kerinduannya wajar,
iri kepada mereka karena mereka lebih banyak mendapati sosoknya,
menikmati pola pendidikannya,
menampung kebiasaan baiknya.

sedangkan tidak ada alasan yang wajar untuk saya merindukannya

tanggul kata-kata yang roboh

January 3rd, 2012 § 1 Comment

I

Tahun sudah baru lagi, lalu apa yang bisa ditulis mengenai hidup di tahun 2011, entah. Berbeda ketika 2010 berakhir, saya bisa dengan mudah mengingat apa saja yang terjadi di tahun itu, kali ini saya mendadak sulit mengingat.

Tertutup ingatan kejadian yang terlalu tebal terjadi di pertengahan hingga akhir tahun 2011. Yang pasti saya punya keluarga baru di tahun 2011, dihadiahkan seorang ibu yang melengkapi peran mamah, ayah yang melengkapi peran papah, adik-adik yang saya tak pernah punya sebelumnya, sepupu dan tante yang melengkapi peran keluarga kandung saya, singkatnya mereka adalah keluarga yang dengan sukarela saya sayangi.

Mendapati mereka memang berawal dari keberadaan sosok dia, tapi waktu berjalan, mereka bukan lagi apa yang dia bawa, saya kemudian jadi lebih menginginkan keberadaan mereka jauh lebih besar dari pada saya menginginkan sosok dia dalam hidup saya. Kehilangan harapan untuk menghabiskan sisa waktu nanti bersama dengan dia, tidak akan pernah mempengaruhi keberadaan mereka dalam hidup saya, kami akan tetap berbagi cerita hingga waktu yang tidak diketahui batasnya.

Lalu, kehilangan sosok panutan yang meskipun tidak lama saya kenal beliau, tapi saya menghabiskan waktu cukup banyak berada di sekitar beliau pada akhir-akhir hidupnya. Tidak wajar saya ikut bersedih bersama anak-anaknya, tetapi nyatanya, hingga kini saya ikut pula merasakan kehilangan yang mereka rasakan.

***

II

Mulai ga nyaman pake BB, kalo diingat-ingat dulu saya bukan termasuk penggemar gadget ini, ga efektif buat saya karena saya bukan sosialita, bukan juga eksmud yang memerlukan gadget ini. Sedari dulu, saya lebih memilih ponsel android, alasannya hmm mungkin akan lebih efektif penggunaan fasilitasnya, untuk saya.

Saya kemudian memakai BB, hmm malu, karena ada sedikit harapan kemungkinan untuk berkomunikasi via gadget ini dengan seseorang disana. Tapi gagal, dan ternyata harapan saya itu berkebalikan juga dengan perkataan saya mengenai komunikasi yang sebaiknya terbatas, jika perasaan tak terbatas.

Tapi ketika niat mengganti gadget ini muncul, kemudian saya memerlukan fasilitas messenger nya untuk berkomunikasi ga penting dengan adik saya, entah, dari harapan awal saya, ini sedikit mendekati. Jadilah saya urung mengganti gadget ini.

Keinginan mengganti itu timbul tenggelam, sekarang saya tidak lagi berkomunikasi intens via messenger gadget itu dengan adik saya, tidak juga dengan kakaknya, singkatnya fasilitasnya betul-betul tidak termanfaatkan secara optimal oleh saya, belum lagi beberapa masalah lain yg bikin saya pengen banting BB saya, juga biaya yg dikeluarkan jika dibandingkan dengan penggunaannya menjadi hambur-hamburan saja. jadi yah.. saya ingin beralih ke gadget laen.

Kepikiran untuk kembali ke ponsel jadul, nokia 8350, yang hanya bisa sms dan telepon only-doang-thok-saja.. (eaa maaf terbawa suasana kamseupay) dan aneh pula, ditengah kumpulan orang-orang berlomba kecanggihan gadgetnya, saya memilih kembali ke masa lalu.

***

III

Lalu, tahun ini resolusi sudah ditetapkan, waktu saya bilang resolusi saya ke sahabat saya, dia cuman bilang, “baru sekarang lu resolusi kaya gitu” hahha ya, saya memang manusia terlambat sih, alasannya sih bisa macem-macem, termasuk ga pengen sama, tapi sesungguhnya alasannya ya hanya satu, kemalasan saya.

Saat ini sih, anginnya lagi baik, saya lagi merasa tidak ada badai dalam hidup saya sekarang ini, lagi datar dan itu kondisi favorite saya. Yah tapi, badai di hidup saya mungkin hanya angin sepoi di hidup banyak orang lainnya. Rasanya tidak perlu saya bangga dengan apa yang saya anggap badai di hidup saya.

Kemampuan menulis yang tidak berkembang, karena jarang lagi menulis, entah karena apa. Lalu apa lagi yah,

Ini hujan lho, tipis sekali. Saya ingin keyakinan saya seperti ini, padat tapi tidak mencolok, ia halus tersamarkan karena tetesannya halus, rapat. Tak perlu diiringi petir, supaya tersembunyi diam-diam saja.

Ada banyak sekali yang jauh lebih mudah hanya diucapkan, dari pada dilaksanakan. Banyak sekali perkataan saya yang sangat sulit, dan akhirnya gagal saya laksanakan ketika keadaan menempatkan saya melakukan apa yang saya ucapkan.

Dulu saya pernah bilang, ketika seseorang datang, dan tak ada alasan untuk saya menolak keberadaannya, seharusnya saya bisa ikhlas mencoba dan membuka kesempatan tumbuhnya perasaan itu, atau bahkan menjalaninya tanpa perasaan.

Nyatanya, sulit setengah gila.

***

Banyak yg saya ingin ceritakan ternyata, tapi tetiba sulit mengerti cara berkosa-kata, jadi harap dimaklum jika yang terluapkan tak berstruktur sama sekali.

Ayah

December 2nd, 2011 § Leave a Comment

Maaf, belum sempat aku ikut serta dalam membahagiakanmu. Maaf, belum sempat aku menjadi murid yang berhak membanggakanmu. Maaf, belum sempat datang padaku kewajiban berbakti padamu. Maaf, aku belum berhasil membuat diriku terpilih memberikan kesempatan untukmu memanjakan cucumu.

Maaf, belum sempat aku menjadi anakmu.

***

[First sentence] Sang Primadona

November 23rd, 2011 § Leave a Comment

Dan ketika hidup yang kau jalani membuatmu berpikir kau adalah pecundang nomer satu yang pernah ada, dan ketika kegagalan bagaikan tersimpan dalam setiap hembusan nafasmu, dan ketidakpuasan tanpa berbuat apa-apa seperti menjadi kedipan matamu.

primadona, hartamu tersimpan dalam-dalam, terpasung dalam rantai di setiap halus hembus nafasmu, kau menyimpan terang dalam bayangmu. Jika kau mau, kau pasti mampu membuat matahari menjadi hanya sekecil debu.

Ketika kau bernafas, dunia sebetulnya ikut berhembus, mengapa kau menenggelamkan diri dalam bayang bulan yang tak berkilau, memaksamu meredupkan warna yang kemilau

waktu, belum.

November 16th, 2011 § Leave a Comment

Waktu akan menunggu /Aku dan kamu/ Meluruskan siku

Waktu akan menunggu/Embun dan malam/Menyenandungkan lagu

Waktu akan menunggu/Kamu dan aku/Bertemu

Hingga aku/Juga kamu/Mau

Sampai kamu/Juga aku/Tak ada ragu/Ucapkan rindu

Waktu akan menunggu/Hanya untuk aku dan kamu/Bersama melaju

 

Tak perlu mempercepat langkah

Tak usah menghitung nafas

Menyegerakan detak

Hanya doa yang dipacu

Agar waktu bisa menunggu

Lalu, aku jatuh cinta

November 15th, 2011 § Leave a Comment

Pada malam-malam itu aku memohon perlindungan-Nya, Pemilik Semesta, Pemilik Hatiku. Sejak malam-malam itu aku meminta perlindungan-Nya, Pemilik Semesta, Pemilik Hatiku. Aku memohon perlidungan untuk hatiku yang bukan milikku, aku meminta perlindungan atas hatiku yang merupakan milik-Nya.

Aku memohon, agar hati yang dititipkan-Nya kepadaku dibekukan, dibutakan, ditulikan dari fitrah yang tidak seharusnya, dari cinta yang sia-sia, cinta yang mubadzir, aku memohon agar hanya diberi jatuh cinta kepada seseorang yang kelak akan menjadi suamiku.

Aku tidak meminta perlindungan dari rasa sakit di hati, aku hanya meminta perlindungan agar tidak diberi salah jatuh cinta, aku memohon terus semenjak malam itu.

Lalu, aku jatuh cinta.

Pada sebuah nama yang sulit aku sebut, hingga harus aku berlatih berulang-ulang, pada sosok yang berulang kali tanpa ia inginkan menggoreskan warna-warni dalam hatiku, pada malam yang mempersembahkanku bintang-bintang.

Lalu, aku jatuh cinta.

Ketika waktu tak mengizinkan warna bahagia yang merona dalam hatiku, ketika izin dan restu bertabrakan dengan ingin kami.

Lalu, aku terluka.

Ketika sosok itu berbahagia, membahagiakan hati yang lain, ketika warna-warni itu tak lagi ia coretkan dalam hatiku, ketika hatinya tak lagi menerima hatiku, ketika hatinya telah ia ambil dan ia simpan di hati yang lain.

Lalu, aku terluka. Dan masih jatuh cinta.

Pada sosok yang tak lagi berdiri menghadapku, pada sosok yang berlari-lari menghindari keberadaanku, pada sosok yang menghapuskan jejakku dengan wajah wanita lain. Pada sosok yang memutuskan pilihan hidupnya, bukan aku.

Lalu, aku jatuh cinta.

Dengan segala rintangan dan gelombang. Tak usai-usai. Dengan segala tangis, pedih, perih dan sakit yang aku rasakan. Dengan segala kekuatan dan keyakinan yang selalu bertambah kuat betapapun pahit kenyataannya. Dengan segala kesabaran, dan beberapa keihklasan yang menemaniku sekali-sekali.

Lalu, aku jatuh cinta. Semenjak doa itu terucap, hingga kini, hanya sekali.

malam

kamu

November 14th, 2011 § 1 Comment

Aku kini mengerti kesulitanmu, keenggananmu, dan Yang Kuasa nyatanya menolongmu. Menolongmu terbebas dari kesulitanmu, aku.

Sekarang, saya terjebak dalam kesulitan yang sama, dan saya tidak tau apakah saya bisa menghadapinya dengan kekuatan yang sama dengan yang kamu punya. Saya tidak tau apakah saya bisa menjadi sekuat kamu.

Kebanyakan ingatan tentangmu memang menyakitkan, tetapi menghilangkan ingatan dan keyakinan tentangmu dalam benakku rasanya seperti tidak hidup.

I want to be with you, i want to be like you, i want to be you.

novemberwish

November 2nd, 2011 § Leave a Comment

Pagi selalu menakutkan untukku, kamu tau, dengan segala ingatan tentang kamu yang membeku disatu waktu, di satu kenangan, ia tak bertambah pun berkurang, hanya berulang-ulang. Anehnya sulit untukku mengingatmu lalu tersenyum, seperti layangan kuyup dipaksakan berkelana di kala hujan, bukan di udara tapi di tanganku.

Dan dibalik tanganku pula, mataku sembab tersembunyi.

Sebab ia ingatan yang menyedihkan, bahkan dalam ingatan menyenangkan tentang kamu-pun, tidak ada kamu di dalamnya. Ada, ingatan dimana aku tersenyum karenamu, tapi kamu berjarak, yang kini aku meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan ingatan, itu hanya harapan, mimpi.

Mengingatmu amat sangat melelahkan, karena berujung pada kenyataan.

Pagi dan waktu-waktu dimana aku tidak bersujud, aku harus kencang-kencang minta ampun pada Tuhan agar tidak diberi ingatan, tentang kamu ataupun ingatan tentang perasaanku padamu. Mengulang-ulang kalimat seperti anak sekolahan menghafal pelajaran, astaghfirullah al-adzhim, begitu berulang-ulang.

aku hanya ingin, dadaku tidak sesak.

***

Seorang perempuan terjebak di goa ingatan, seperti ikan terjebak dalam akuarium empat sisi. Seperti kembang dalam rumah kaca, hanya saja ingatan ini tidak berkembang, tidak berbunga, dan tidak pula indah.

triple ten sanctuary

October 31st, 2011 § Leave a Comment

I have found my sanctuary, but i’m too fool to realized it.

***

Ia teringat kenangannya, berjinjit malam hari seperti maling yang sedang bertugas, berjalan hati-hati di sisi atap rumah, menuju satu sudut dimana ia bisa mengencangkan telapak kakinya, memeluk simpul lutut kakinya.

Ketinggian yang menyenangkan, melihat entah apa, belum ada tumpukan atap rumah waktu itu, hanya gelap saja di bawah. Tapi ketika berbaring, ia melihat bintang, tidak terlalu banyak, biasa saja, tidak beda jumlahnya meski ia lihat dari jendela saja.

Kebanyakan hanya gelap, tapi ia suka, sendiri. Memikirkan yang jika diingat suatu waktu nanti mungkin tak menjadi ingatan yang solid, tidak ada ingatan mengenai pikiran-pikiran, imajinasi dan khayalan yang berterbangan di langit dengan bintang seadanya itu.

***

Ia melupakan imajinasinya, tapi tidak rasa nyamannya, ia ingat kebahagiaannya diselimuti dingin, dipeluk udara, lagaknya seperti di hamparan pasir kadang seperti di hamparan kasur, ia melupakan bahwa ia berbaring di tempat dimana tikus, burung dan segala kotor di siang hari menanamkan jejak disitu.

Buatnya tanda kenyamanan ia menjadi nyata ketika bisa terlelap tanpa sadar di tempat itu, ia ingat tempat itu ketika ia tertidur dalam sebuah mobil travel yang sudah hampir tiga bulan rutin setiap minggu ia tumpangi.

Meskipun tidak ingin ia akui, tubuhnya telah membahasakan, tapi agaknya otaknya memiliki tempat tersendiri kadang melepaskan segala hubungan dengan bahasa yang di suarakan tubuhnya, tuli dari kenyataan.

Terlampau bodoh dan tidak menyadari. Bahwa nyaman adalah aman, ia pikir yang nyaman justru berbahaya, menghapuskan jiwa menduga-duga, mengalahkan jiwa yang tertantang. Membuat bosan kehidupannya.

***

Ia tidak menyadari bahwa nyaman adalah aman, dan keamanan adalah lebih pasti dari sekedar ucapan mengenai kepastian.

 
 

meski terlambat, if it still, Happy anniversary

my homer, my mirror, my sanctuary.

.

Saya ingin.

October 14th, 2011 § 1 Comment

Saya betul-betul harus mencintai suami saya kelak, saya harus menikahi orang yang saya cintai. Tapi, saya betul-betul juga harus dicintai suami saya kelak. Saya harus menikahi orang yang mencintai saya.

Kalau saat ini, saya mencintai seseorang yang tidak atau belum mencintai saya, artinya kami belum berjodoh. Kalau saat ini saya dicintai seseorang yang tidak atau belum saya cintai, artinya kami belum berjodoh.


Meski kadang ada yang dimulai dengan keterpaksaan, tapi saya yakin akan doa saya, cerita saya tidak akan dimulai dengan keterpaksaan, agar tidak dijalani dengan keterpaksaan. Saya tidak mau salah memilih, memulai, hingga akhirnya menjalani segalanya dengan terpaksa.

Saya tidak mau hanya karena terburu-buru, saya jadi salah memilih, dan memulai segala sesuatu yang salah.

Saya tidak mau menjadi beban untuk orang lain, saya ingin kelak, saya dan suami saya berjalan bukan hanya disertai dengan keridhoan Allah Ta’ala tapi juga dengan keikhlasan hati masing-masing.

Saya percaya jika apa yang saya percayai saat ini adalah salah, Allah Ta’ala akan mempertemukan saya dengan orang lain dengan kepercayaan yang sama besarnya. Nanti, jika Allah Ta’ala menghendaki.


Saya ingin, kelak jika pun suami saya tidak mampu menafkahi saya, saya akan tetap mengasihinya, menghapus peluhnya, memanjakannya, menyambutnya dengan penuh senyum penuh kepercayaan.

Saya ingin, kelak ketika saya tidak sanggup menahan kesedihan, menutup kelemahan diri saya, suami saya akan tetap ada disitu memberi saya kekuatan, mempercayai saya, datang dengan penuh ketegasan, membimbing saya dengan kesabaran.

Itu hanya akan terjadi apabila kami berjalan bukan hanya disertai dengan keridhoan Allah Ta’ala, tapi juga diiringi dengan keikhlasan hati kami.

Dan keikhlasan hati kami masing-masing, pun hanya Allah Ta’ala yang memutuskan.

fana

October 8th, 2011 § Leave a Comment

Ah saya ini nanti mati. Meninggalkan apa-apa yang saya perjuangkan di sini, kamu, kita akan sama-sama meninggalkan. Buat apa saling mempertahankan.

Saya ga akan mempertahankan kamu. Kalau kamu mau pergi, silahkan. Mempertahankanmu dalam hidupku bukan kuasaku. Karena pada akhirnya, kita akan sama-sama meninggalkan.

Buat apa kamu mempertahankan dia. Jika dia mempertahankanmu dalam hidupnya, maka ia tidak mengerti. Kalian pada akhirnya akan saling meninggalkan.

Kembali ke Muara. Tuhan.

Piramida Doa

September 5th, 2011 § Leave a Comment

Dua manusia itu pernah saling bercerita, sejenak saja, tak berbekas dalam ingatan keduanya, kecuali dalam doa salah seorangnya saja.

Keduanya memenuhi ingatan dengan cerita yang lain, semua berubah kecuali apa yang ada dalam doa salah seorangnya saja.

Ini boleh disebut aneh, meski arah yang mereka harus tempuh semakin jelas kini, meski masih sementara, yakni menaati mereka yang harus ditaati, tak ada mereka berbagi cerita selain hanya doa dari salah seorangnya saja.

Dan disitulah letak indahnya, doa yang dari salah seorangnya saja, kini tak hanya seorang saja. Bukan doa dari saya saja, tapi juga mereka. Semoga kau juga.

Persembunyian Ramadhan

August 20th, 2011 § 1 Comment

Tahun lalu, memasuki persembunyian Ramadhan niat saya hanya membersihkan hati dari kebencian dan rasa sakit hati kepada orang tertentu, karenanya jika hati saya sudah bersih mungkin Ikhlas melepas tak akan sulit saya dapatkan.

Tapi di pertengahannya, ada doa dan harapan yang jauh berbeda dari semua itu yang seolah-olah saya tanpa daya menghentikan harapan itu tergambarkan dalam doa saya.

Seolah-olah bahkan harapan dalam doa itu pun keluar bukan atas keinginan diri saya sendiri.


Dan yang dijadikan nyata tanpa disangka ternyata adalah sebagian doa yang tanpa ancang-ancang tersebut.


Maka kali ini, tak ada niat apa-apa. Hanya ingin menemui-Nya, memberhentikan hidup untuk sementara waktu. Begitu bergantungnya saya pada-Nya, hingga untuk sebuah keinginanpun saya menunggu-Nya yang memperjelaskannya untuk saya.

Menunggu digerakkan bahkan untuk sebuah keinginan.

takut

August 6th, 2011 § Leave a Comment

Ada gengsi, rasa bersalah, dan takut. Tapi kurasa yang paling mendominasi tadi ya takut..

—-

Oke, gengsi sih dengan sangat mudah bisa dipatahkan, jika kedua rasa yang bersahutan menyusul di belakang berhasil diredakan.

Antara terjebak dalam rasa bersalah yang amat sangat atau keinginan tak terbendung agar wanita itu merelakan saja, beberapa hari ini selalu muncul dalam mimpi sesosok wanita yang mungkin tersakiti karena saya. Yang dulunya, menyakiti saya.

Demi Tuhan saya takut, saya takut memaksakan, meskipun pemaksaan itu terselubung dalam bungkus komunikasi sederhana. You see, saya takut, perhatian saya membuat dia merasa terpaksa harus memberi timbal balik, yaa karena merasa bersalah.

Saya ga mau membuat keadaan lebih rumit lagi dengan pemaksaan kehendak, meskipun itu tersembunyi dengan rapi.

Saya takut, semua sakit itu terulang lagi, saya takut..


batasan

August 1st, 2011 § Leave a Comment

Membatasi tulisan lagi, kenapa pula harus membatasi diri dalam menulis. Ya karena tulisannya tidak berkembang, perlahan bikin diri sendiri kecewa, tapi inget ga sih janji diri sendiri waktu pertama kali bikin blog ini, janjimu mengenai tidak perlu memaksakan diri menulis yang berarti. Menulis ya menulis saja, titik.

So what, kalau yang saya tulis menye-menye, kalau yang saya tulis itu-itu aja, kalau yang saya tulis belum juga memberi manfaat untuk orang lain. Siapa yang larang, siapa yang paksa tulisanmu harus berbobot? Tak ada toh.

Selalu gitu deh.

Sama seperti perasaan menyambut bulan suci Ramadhan kali ini. Dulu ketika jarak menuju bulan Ramadhan ini masih jauh, betapa saya merindu dengan sangat, amat sangat, rindu keikhlasan yang dihasilkan, rindu waktu dimana doa saya tak dibatasi perasaan bersalah, dibatasi kepedulian pada yang lain, rindu waktu dimana doa saya diperbolehkan begitu egois.

Nah sekarang, hari pertama bulan Ramadhan, saya terserang perasaan ganjil dimana saya merasa betapa tak tulusnya saya menjalani bulan suci ini, merasa amat bersalah telah menyelipkan keinginan dalam doa di bulan Ramadhan.

Sementara seharusnya, ia murni untuk Allah Ta’ala semata, menyembah tanpa meminta selain apapun yang telah dan akan Allah Ta’ala berikan. Menyembah tanpa meminta selain Ampunan, dan Ridho dari-Nya.

***

Saya ingin menyembah-Nya tanpa keinginan lain selain menyembah-Nya.

Saya ingin tak perlu kehilangan untuk merasa memiliki-Nya.

Saya ingin tak perlu kesedihan untuk merasakan keberadaan-Nya.

Saya ingin tak perlu melakukan dosa untuk merasa perlu ampunan-Nya.

Saya ingin tak perlu cobaan untuk merasa memerlukan-Nya.

Saya ingin tak perlu cinta dari yang lain untuk merasakan cinta dari-Nya.

***

Tapi apa gunanya untuk saya merasakan sesuatu yang justru membatasi, ketika apa yang harusnya saya lakukan ya menjalaninya saja, mungkin saya lupa tahapan, perubahan, perlahan mungkin akan saya dapatkan keingingan-keinginan yang saya sebut diatas.

Dimana Allah mungkin tak hanya inginkan saya yang hanya menginginkan, ibadah ya ibadah saja, apapun latar belakangnya, janganlah keinginan diterima atau tidaknya ibadah itu membuat ibadahnya tak jadi dilakukan karena keraguan semata.

Begitu juga menulis, saya tidak boleh membuat keinginan memperbaiki tulisan justru membuat saya merasa dihantui keengganan dalam menulis, menulis ya menulis saja, apapun hasilnya.

***

Ah iya ini mungkin berlaku hanya untuk saya, tipe kepribadian dimana saya lebih memilih tidak melakukan sesuatu dibanding melakukan kesalahan :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.