Hibhib horraaay – kadang tak horraaay.

kandang, rumah, sanctuary. cuma sebuah tempat, dimana saya menjadi diri saya sendiri, berbicara tanpa sieun ka isin dan isin ka sieun.. bicara dalam tulisan.

Hujan

MALAM..! akhirnya kutemukan cara menemuimu tanpa bintang dan bulan yang mengawasi, tanpa matahari dan pagi yang selalu menanti. tanpa dusta dan enggan yang selalu hadir tanpa kita mengerti. tapi tetap disertai petir yang mengiringi, seolah memberi batas waktu, di pertemuan kita.

MALAM..! mungkin kau sendiri tidak menyadari, kedatanganku saat ini, memelukmu dalam ikatan rintik-rintik, membalutmu dalam untaian kabut, menggambarmu penuh lautan awan, melukismu dengan guratan petir.

MALAM..!  hujan sedang rajin mampir bukan? tetesannya sedang menyapamu terus terusan bukan? ia lalu menyisakan embun di pagi hari, membuat malam selalu terisi. bulan dan bintang terpaksa menyingkir bukan? menyerah pada lapisan awan yg menghalangi bukan? ketika hujan datang.

MALAM..! tahukah kamu? tak merasakah kamu? ada kesamaan dalam peluk mesra sang hujan saat itu? ada yang kau rindukan dalam bincang irama tetes hujan saat itu? ada senyum, ada harap, ada suka, ada luka yang sama dengan embun yang pernah sejenak menari bersama denganmu?

MALAM..! itu embun, embun dalam bentuk yg lain, dalam bantuan balutan sang awan tp masih dalam pengawasan si petir, petir yg pernah hadir untuk matahari, yang membuat embun iri setengah mati, cemburu buta dan sakit hati.

MALAM..! “kutemukan cara menjumpaimu”

” akan aku buat pagi muram, dan mentari temaram. karena engkau malam, diam-diam menjamu-ku dalam-dalam”

No comments yet »

Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>