triple ten sanctuary
October 31st, 2011 § Leave a Comment
I have found my sanctuary, but i’m too fool to realized it.
***
Ia teringat kenangannya, berjinjit malam hari seperti maling yang sedang bertugas, berjalan hati-hati di sisi atap rumah, menuju satu sudut dimana ia bisa mengencangkan telapak kakinya, memeluk simpul lutut kakinya.
Ketinggian yang menyenangkan, melihat entah apa, belum ada tumpukan atap rumah waktu itu, hanya gelap saja di bawah. Tapi ketika berbaring, ia melihat bintang, tidak terlalu banyak, biasa saja, tidak beda jumlahnya meski ia lihat dari jendela saja.
Kebanyakan hanya gelap, tapi ia suka, sendiri. Memikirkan yang jika diingat suatu waktu nanti mungkin tak menjadi ingatan yang solid, tidak ada ingatan mengenai pikiran-pikiran, imajinasi dan khayalan yang berterbangan di langit dengan bintang seadanya itu.
***
Ia melupakan imajinasinya, tapi tidak rasa nyamannya, ia ingat kebahagiaannya diselimuti dingin, dipeluk udara, lagaknya seperti di hamparan pasir kadang seperti di hamparan kasur, ia melupakan bahwa ia berbaring di tempat dimana tikus, burung dan segala kotor di siang hari menanamkan jejak disitu.
Buatnya tanda kenyamanan ia menjadi nyata ketika bisa terlelap tanpa sadar di tempat itu, ia ingat tempat itu ketika ia tertidur dalam sebuah mobil travel yang sudah hampir tiga bulan rutin setiap minggu ia tumpangi.
Meskipun tidak ingin ia akui, tubuhnya telah membahasakan, tapi agaknya otaknya memiliki tempat tersendiri kadang melepaskan segala hubungan dengan bahasa yang di suarakan tubuhnya, tuli dari kenyataan.
Terlampau bodoh dan tidak menyadari. Bahwa nyaman adalah aman, ia pikir yang nyaman justru berbahaya, menghapuskan jiwa menduga-duga, mengalahkan jiwa yang tertantang. Membuat bosan kehidupannya.
***
Ia tidak menyadari bahwa nyaman adalah aman, dan keamanan adalah lebih pasti dari sekedar ucapan mengenai kepastian.
meski terlambat, if it still, Happy anniversary
my homer, my mirror, my sanctuary.
.