novemberwish
November 2nd, 2011 § Leave a Comment
Pagi selalu menakutkan untukku, kamu tau, dengan segala ingatan tentang kamu yang membeku disatu waktu, di satu kenangan, ia tak bertambah pun berkurang, hanya berulang-ulang. Anehnya sulit untukku mengingatmu lalu tersenyum, seperti layangan kuyup dipaksakan berkelana di kala hujan, bukan di udara tapi di tanganku.
Dan dibalik tanganku pula, mataku sembab tersembunyi.
Sebab ia ingatan yang menyedihkan, bahkan dalam ingatan menyenangkan tentang kamu-pun, tidak ada kamu di dalamnya. Ada, ingatan dimana aku tersenyum karenamu, tapi kamu berjarak, yang kini aku meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan ingatan, itu hanya harapan, mimpi.
Mengingatmu amat sangat melelahkan, karena berujung pada kenyataan.
Pagi dan waktu-waktu dimana aku tidak bersujud, aku harus kencang-kencang minta ampun pada Tuhan agar tidak diberi ingatan, tentang kamu ataupun ingatan tentang perasaanku padamu. Mengulang-ulang kalimat seperti anak sekolahan menghafal pelajaran, astaghfirullah al-adzhim, begitu berulang-ulang.
aku hanya ingin, dadaku tidak sesak.
***
Seorang perempuan terjebak di goa ingatan, seperti ikan terjebak dalam akuarium empat sisi. Seperti kembang dalam rumah kaca, hanya saja ingatan ini tidak berkembang, tidak berbunga, dan tidak pula indah.