tanggul kata-kata yang roboh
January 3rd, 2012 § 1 Comment
I
Tahun sudah baru lagi, lalu apa yang bisa ditulis mengenai hidup di tahun 2011, entah. Berbeda ketika 2010 berakhir, saya bisa dengan mudah mengingat apa saja yang terjadi di tahun itu, kali ini saya mendadak sulit mengingat.
Tertutup ingatan kejadian yang terlalu tebal terjadi di pertengahan hingga akhir tahun 2011. Yang pasti saya punya keluarga baru di tahun 2011, dihadiahkan seorang ibu yang melengkapi peran mamah, ayah yang melengkapi peran papah, adik-adik yang saya tak pernah punya sebelumnya, sepupu dan tante yang melengkapi peran keluarga kandung saya, singkatnya mereka adalah keluarga yang dengan sukarela saya sayangi.
Mendapati mereka memang berawal dari keberadaan sosok dia, tapi waktu berjalan, mereka bukan lagi apa yang dia bawa, saya kemudian jadi lebih menginginkan keberadaan mereka jauh lebih besar dari pada saya menginginkan sosok dia dalam hidup saya. Kehilangan harapan untuk menghabiskan sisa waktu nanti bersama dengan dia, tidak akan pernah mempengaruhi keberadaan mereka dalam hidup saya, kami akan tetap berbagi cerita hingga waktu yang tidak diketahui batasnya.
Lalu, kehilangan sosok panutan yang meskipun tidak lama saya kenal beliau, tapi saya menghabiskan waktu cukup banyak berada di sekitar beliau pada akhir-akhir hidupnya. Tidak wajar saya ikut bersedih bersama anak-anaknya, tetapi nyatanya, hingga kini saya ikut pula merasakan kehilangan yang mereka rasakan.
***
II
Mulai ga nyaman pake BB, kalo diingat-ingat dulu saya bukan termasuk penggemar gadget ini, ga efektif buat saya karena saya bukan sosialita, bukan juga eksmud yang memerlukan gadget ini. Sedari dulu, saya lebih memilih ponsel android, alasannya hmm mungkin akan lebih efektif penggunaan fasilitasnya, untuk saya.
Saya kemudian memakai BB, hmm malu, karena ada sedikit harapan kemungkinan untuk berkomunikasi via gadget ini dengan seseorang disana. Tapi gagal, dan ternyata harapan saya itu berkebalikan juga dengan perkataan saya mengenai komunikasi yang sebaiknya terbatas, jika perasaan tak terbatas.
Tapi ketika niat mengganti gadget ini muncul, kemudian saya memerlukan fasilitas messenger nya untuk berkomunikasi ga penting dengan adik saya, entah, dari harapan awal saya, ini sedikit mendekati. Jadilah saya urung mengganti gadget ini.
Keinginan mengganti itu timbul tenggelam, sekarang saya tidak lagi berkomunikasi intens via messenger gadget itu dengan adik saya, tidak juga dengan kakaknya, singkatnya fasilitasnya betul-betul tidak termanfaatkan secara optimal oleh saya, belum lagi beberapa masalah lain yg bikin saya pengen banting BB saya, juga biaya yg dikeluarkan jika dibandingkan dengan penggunaannya menjadi hambur-hamburan saja. jadi yah.. saya ingin beralih ke gadget laen.
Kepikiran untuk kembali ke ponsel jadul, nokia 8350, yang hanya bisa sms dan telepon only-doang-thok-saja.. (eaa maaf terbawa suasana kamseupay) dan aneh pula, ditengah kumpulan orang-orang berlomba kecanggihan gadgetnya, saya memilih kembali ke masa lalu.
***
III
Lalu, tahun ini resolusi sudah ditetapkan, waktu saya bilang resolusi saya ke sahabat saya, dia cuman bilang, “baru sekarang lu resolusi kaya gitu” hahha ya, saya memang manusia terlambat sih, alasannya sih bisa macem-macem, termasuk ga pengen sama, tapi sesungguhnya alasannya ya hanya satu, kemalasan saya.
Saat ini sih, anginnya lagi baik, saya lagi merasa tidak ada badai dalam hidup saya sekarang ini, lagi datar dan itu kondisi favorite saya. Yah tapi, badai di hidup saya mungkin hanya angin sepoi di hidup banyak orang lainnya. Rasanya tidak perlu saya bangga dengan apa yang saya anggap badai di hidup saya.
Kemampuan menulis yang tidak berkembang, karena jarang lagi menulis, entah karena apa. Lalu apa lagi yah,
Ini hujan lho, tipis sekali. Saya ingin keyakinan saya seperti ini, padat tapi tidak mencolok, ia halus tersamarkan karena tetesannya halus, rapat. Tak perlu diiringi petir, supaya tersembunyi diam-diam saja.
Ada banyak sekali yang jauh lebih mudah hanya diucapkan, dari pada dilaksanakan. Banyak sekali perkataan saya yang sangat sulit, dan akhirnya gagal saya laksanakan ketika keadaan menempatkan saya melakukan apa yang saya ucapkan.
Dulu saya pernah bilang, ketika seseorang datang, dan tak ada alasan untuk saya menolak keberadaannya, seharusnya saya bisa ikhlas mencoba dan membuka kesempatan tumbuhnya perasaan itu, atau bahkan menjalaninya tanpa perasaan.
Nyatanya, sulit setengah gila.
***
Banyak yg saya ingin ceritakan ternyata, tapi tetiba sulit mengerti cara berkosa-kata, jadi harap dimaklum jika yang terluapkan tak berstruktur sama sekali.
Hmm.. oke