ayah mereka
January 8th, 2012 § Leave a Comment
saya tidak punya fotonya, tidak juga punya ingatan yang banyak mengenai sosoknya, jika saya ditanya apa yang paling saya ingat mengenai sosoknya? jawaban saya pasti standart, sama dengan kebanyakan orang yang tidak begitu lama melibatkan diri dalam kehidupannya. kebanyakan cerita tentangnya saya dengar dari sosok istri tercintanya, dan sedikit tambahan dalam ingatan saya mengenai sosoknya dari sedikit waktu yang saya habiskan berada disekitarnya
pada akhir-akhir kehidupanya.
tidak ada kewajaran sama sekali atas kesedihan dan kehilangan yang saya rasakan agak berlebihan ini, siang tadi dalam sujud, tetiba tersadar betapa saya menginginkan menjadi anaknya jauh lebih besar dari pada saya menginginkan jadi pendamping anaknya, sesaat setelah terjadi kelebatan ingatan mengenai beliau semenjak pertama saya mengenal sosoknya, di tahun 2010 lalu.
tidak lama, sama sekali tidak lama, hanya sekitar 1 tahun setengah saya mengenal beliau, dan sekira 1 tahun saja saya lebih sering berada di sekitar beliau.
beliau bukan saja sosok yang cakap dalam urusan keagamaan, tetapi cakap dalam menyampaikan, suaranya tegas bertempo sedang, sesosok pendidik penuh kesabaran, yang paham betul bahwa pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu tetapi menularkan kebiasaan.
Lelaki sederhana, memiliki ilmu tak sederhana, dengan lihai menyampaikannya dengan sederhana, sehingga dimengerti oleh orang-orang dengan benak sederhana.
saya ingat, banyak hal-hal sederhana yang beliau sampaikan yang lambat laun dijadikannya sebagai kebiasaan, hingga kini masih diterapkan. banyak hal-hal sederhana, yang beliau sampaikan, oleh kebanyakan orang luput disampaikan padalah merupakan hal penting yang harus dibiasakan.
saya ingat, tak ada hal sederhana untuknya jika mengenai melayani tamu. tak pernah pula ia meremehkan sesuatu, bahkan yang kadang dilakukan dengan tanpa sadar oleh orang lain, melalui mimik muka,gerak tubuh ataupun tanggapan untuk orang lain.
tak ada untuknya, pertanyaan yang sepele, ia akan menjawab, bertanya ulang meyakinkan apakah si penanya sudah mengerti apa yang dimaksud, sekali lagi, tanpa gerak tubuh dan mimik muka yang menyepelekan. ketulusannya terpancarkan begitu saja.
lebih dari sekali beliau berada dalam mobil yang saya setir, beliau sendiri saya yakin bukan seorang yang amatir dalam menyetir, tetapi tak pernah sekali pun beliau terlihat khawatir atau ragu atas kemampuan menyetir saya, padahal tidak sekali saya terlihat lalai di jalan raya.
saya ingat kopi luwak dan karedok, sendal dan kopiah,
iklan teh ulat dan pucuk daun.
tidak wajar memang, tetapi nyatanya siang tadi kesedihan dan kerinduan itu menyeruak begitu saja, mengingat begitu sedikit waktu saya rasakan keberadaanya, dan saya pun iri,
iri kepada anak-anaknya yang kesedihan dan kerinduannya wajar,
iri kepada mereka karena mereka lebih banyak mendapati sosoknya,
menikmati pola pendidikannya,
menampung kebiasaan baiknya.
sedangkan tidak ada alasan yang wajar untuk saya merindukannya